RSS

Tanggungjawab Orangtua

Tanggung Jawab Orang Tua dalam Mencetak Generasi Islami
Oleh Ustadz Susanto, SHI, S.AP.

Hadirin Jamaah Jum’at Rohimakumulloh,

Marilah kita sama-sama berupaya semaksimal mungkin senantiasa mempertebal keimanan dan ketaqwaan kita kepada Alloh SWT. Karena hanya ketaqwaanlah yang dapat menjamin ketentraman hidup kita di dunia dan akherat. Keimanan dan ketaqwaan pula yang menjadikan kita merasa layak berharap rahmat Alloh di dunia dan akhirat. Oleh karena itu marilah kita semakin mendekatkan diri kepada Alloh SWT agar jalan hidup kita senantiasa diberkahi dan diridhoi Alloh SWT.

Jika kita senantiasa meningkatkan ketaqwaan, tentu jalan hidup kita menjadi lebih mudah, lebih nyaman dan lebih teratur dan berkesinambungan. Dalam bermasyarakat, tentu kita menginginkan keteraturan dan kesinambungan dalam berbagai bentuk kebaikan. Nah, salah satu di antara bentuk-bentuk kesinambungan dalam kebaikan dan kataqwaan adalah tumbuhnya generasi-generasi penerus perjuangan dan dakwah islamiyah. Maka dengan demikian, tentu kita menginginkan turut berperan serta dalam melanjutkan estafet perjuangan islam ini dengan melahirkan dan mengasuh anak-anak Muslim yang cerdas, berkarakter dan shaleh.

Rasulullah SAW bersabda,
Setiap anak dilahirkan dalam fitrah/suci bak kertas putih. Lalu kedua orang tuanya yang menjadikannya sebagai Yahudi, Nashrani atau Majusi. (HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya, orang tualah yang memiliki tanggung jawab utama dalam mendidik dan menjadikan seorang anak sebagai pribadi yang sholeh atau sebaliknya.

Hal ini juga sesuai dengan Sabda Rosululloh lainnya,
Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya. (HR. Bukhori-Muslim)

Seorang pemimpin pemerintahan adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban tentang rakyatnya, suami adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban tentang anggota keluarganya, istri adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban tentang rumah tangga suaminya serta anak-anaknya, dan seorang pembantu adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban tentang tugas dan amanah yang diberikan oleh majikannya, maka ingatlah bahwa setiap kita adalah pemimpin dan setiap kita akan diminta pertanggungjawaban kelak di hari Kiamat.

Hadirin jamaah Jum’at rohimakumulloh,
Anak merupakan harapan setiap orang tua dalam kehidupan rumah tangga mereka. Anak adalah kebanggaan dan dambaan. Namun terkadang anak juga dapat menjadi cobaan yang sangat berat bagi kedua orang tuanya. Karenanya, setiap orang tua mesti mendidik anak-anak mereka sesuai tuntunan agama Islam.

Anak-anak yang dididik dengan Tuntunan Islam diharapkan menjadi anak-anak yang sholeh, berbakti dan berguna bagi bangsa, negara, masyarakat dan agamanya. Tentu saja orang tuanya adalah mereka yang pertama kali memetik buah dari kesalehan anak-anaknya.

Allah SWT berfirman,
Dan orang-orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang/penyejuk hati (kami), dan jadikanlah kami imam/teladan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqaan, 25:74)

Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang shaleh. (QS. Ash-Shoffaat, 37:100)
Dua Ayat ini meneguhkan kepada kita, bahwa selayaknya sebagai pribadi Muslim yang beriman, tentu kita berharap untuk dikaruniai buah hati yang dapat dibanggakan, shaleh-shalihah, berbakti dan berguna bagi sesamanya.

Namun Alloh Subhanahu Wata’ala juga mengingatkan kita, bahwa segala anugerah yang berupa keturunan dan segala milik kebendaan serta lain-lainnya, adalah hanya ditentukan oleh Alloh SWT. karenanya, sebagai orang beriman, tentu kita tidak boleh menyalahkan siapa pun jika barangkali kita belum dikaruniai keturunan. Karena Allah-lah yang telah menentukan setiap kelahiran yang telah maupun akan muncul di muka bumi ini.

Firman Alloh,
Kepunyaan Alloh kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa yang dikehendaki-Nya), dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (QS. asy-Syura, 42:49-50)

Selayaknya kita senantiasa berdoa, semoga Alloh mengkaruniakan kebahagiaan dunia dan akhirat kepada kita sekalian melalui keturunan-keturunan yang shalih dan shalihah di tengah-tengah masyarakat kita. Agar keturunan-keturunan tersebut dapat melanjutkan estafet dakwah Islam di tengah-tengah kondisi masyarakat yang semakin kompleks ini.

Namun berdoa saja tidaklah cukup. Kita harus mengupayakan sekuat tenaga agar dapat mendidik anak-anak kita menjadi generasi yang dapat diandalkan oleh zamannya. Kita harus memperhatikan pendidikan mereka, berusaha menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan positif kejiwaan mereka.

Sebagai orang tua, kita juga harus memperhatikan pergaulan anak-anak kita yang menjadi faktor penentu dalam perkembangan sosial mereka. Kita harus mengajarkan kesederhanaan dalam keseharian mereka. Karena Rosululloh SAW sudah meneladankan, bahwa meski hidup dalam kondisi yg sederhana, tapi kebahagiaan selalu Beliau rasakan. Maka demikianlah mestinya kita menciptakan lingkungan sosial dan kekeluargaan bagi anak-anak harapan generasi Islam tersebut.

Di samping itu, hal lain yang harus kita perhatikan dalam mendidik anak adalah memberikan Rezeki yang Halal selama pertumbuhan mereka. Karena rezeki halal dapat mempermudah mereka tumbuh menjadi anak yang saleh dan taqwa. Rezeki yang halal akan memudahkan mereka menerima hidayah dan keberkahan dalam menjalani proses pertumbuhan dan pendidikannya. .Sementara jika kita kurang-hati-hati dan teledor dengan memberikan mereka masukan energi dan suplai makanan dari rezeki yang tidak halal, maka sama saja dengan menginginkan mereka menjadi lahan empuk bagi tumbuhnya kemungkaran dalam diri mereka.

Hadirin jamaah jum’at rohimakumulloh,
Marilah kita sama-sama berupaya mengenalkan dakwah kepada generasi Islam penerus kita sedini mungkin dengan penuh kebijakan dan keteladanan yang mulia. Bukan zamannya lagi jika kita hanya mendidik tanpa memperhatikan perkembangan psiokologis mereka. Bukan zamannya lagi jika kita hanya mengandalkan kekerasan dalam mendidik anak-anak kita.

Memang benar, bahwa Rosululloh SAW memperbolehkan kita untuk memukul anak-anak jika mereka lalai mengerjakan shalat. Namun bukan berarti dengan demikian kita dapat memukul mereka dengan seenaknya saja. Karena anak-anak senantiasa membutuhkan kasih sayang yang dapat mereka cerna dan mereka sadari. Anak-anak ingin mengerti bahwa orang tua mereka menyayangi mereka, sehingga mereka dapat membalas kasih sayang tersebut dengan kesungguhan belajar dan berusaha menjadi baik bagi lingkungan dan masyarakatnya. Artinya anak-anak akan merasa memiliki tanggung jawab menjadi shaleh dan shalihah jika mereka juga mengerti bahwa kedua orang tuanya mencontohkan kesalehan dan keteladanan yang baik terhadapnya.

Tentang hal ini, Al-Qur’an mengajarkan :
Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah/bijaksana dan pelajaran/nasehat yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. an-Nahl, 16:125)

Artinya, jika kita menginginkan anak-anak kita menjadi generasi yang baik dan santun, tentu kita harus mengajarkan kebaikan dan sopan santun serta etika Islam kepada mereka.

Selain itu, dalam memilihkan atau mengarahkan pendidikan bagi anak-anak, kita dapat memperhatikan bakat dan kecenderungan mereka. Kita dapat menyekolahkan mereka menurut bakat positifnya masing-masing, sehingga ketika telah menjadi dewasa nantinya, mereka tidak memiliki keraguan akan kemampuan dan potensi dirinya.

Hal ini sesuai dengan firman Alloh,
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang mengajak kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran 3: 104)

Ada yang menjadi muballigh, tentara, pedagang, guru atau pun insinyur dan lain-lain sebagainya. Dengan demikian generasi Islam yang kita dambakan bersama dapat segera terwujud menjadi sebuah kenyataan. Dan izzul Islam wal muslimin dapat kita gapai bersama, karena generasi muda saat ini tentu akan menjadi pemimpin Islam di kemudian hari.

Hadirin jamaah jum’at rohimakumulloh,
Jadi, hal terpenting yang perlu kita sadari sebagai tanggungjawab kita kepada anak-anak kita adalah pendidikan, keteladanan dan ketaqwaan. Sebagaimana perkataan Abdullah bin Umar rodhiyallohu’anhu, “Didiklah anakmu karena kamu akan ditanya tentang tanggungjawabmu, apakah sudah kamu ajari anakmu, apakah sudah kamu didik anakmu dan kamu akan ditanya kebaikanmu kepadanya dan ketaatan anakmu kepadamu.”

Marilah kita berikan bekal ketaqwaan yang cukup kepada mereka, apapun profesi yang menjadi pilihan mereka kelak. Karena tanpa ketaqwaan, mustahil mereka dapat menjadi generasi Muslim yang dapat diandalkan dan ditunggu peran sertanya dalam pembangunan bangsa dan umat ini.

Sebagaimana firman Alloh SWT,
Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal. (QS. al-Baqarah, 2:197)

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 November 2010 in Uncategorized

 

Khuthbah Jum’at 1431 Idul Fitri

Renungan di Hari Idul Fitri 1431 H
Khuthbah Jum’at di Idul Fitri 1431 H Oleh Ustadz Susanto S H I, S.AP.
(Blok R.80, Kelurahan Baturaja Permai, HP 085664786043)

Saudara-saudaraku Jamaah Jum’at yang dirahmati Alloh,
Pada jum’at yang berbahagia ini, tanggal 10 September 2010 bertepatan dengan tanggal 1 Syawwal 1431 H, mari kita sama-sama memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Alloh SWT yang masih memberikan kesempatan kepada kita untuk menikmati karuniaNya, memenuhi panggilanNya, dan berkumpul bersama keluarga dan tetangga di hari yang amat mulia, Idul Fitri yang sama-sama kita damba. Selanjutnya shalawat dan salam marilah kita haturkan kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW yang dengan perantaraan beliau kita ditakdirkan dapat menikmati islam dan iman yang kita rasakan sekarang ini. Kemudian yang paling penting marilah kita sama-sama berupaya meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Alloh SWT dengan iman yang semakin kokoh terhujam di dada dan takwa yang benar-benar terwujud dalam realita.
Saudara-saudaraku Jamaah Jum’at yang dirahmati Alloh,
Romadhon baru saja berlalu dari hadapan kita, namun apakah yang telah kita petik di bulan yang penuh barokah itu. Sejenak marilah kita toleh hikmah apa yang sudah diajarkan Romadhon kepada kita. Pertama, kita diperintahkan tidak makan, tidak minum, dan tidak timbul syahwat suami dengan istri dalam batas waktu sejak terbit fajar (subuh) sampai matahari terbenam (maghrib). Hikmah nya adalah kita diperintahkan menahan diri dari memasukkan barang yang halal ke dalam tubuh kita, yakni kita lakukan di siang hari sejak terbit fajar sampai matahari terbenam. Ini mengajarkan kepada kita bahwa kita tidak boleh boros dan rakus memanfaatkan dan mengambil barang yang halal untuk diri kita sendiri, tetapi kita disuruh untuk memberikan kesempatan kepada orang lain, berbagi dengan orang lain, apalagi ia adalah saudara kita sesama muslim, terlebih lagi ia adalah saudara kita sekeluarga. Di sini juga terkandung pengajaran bahwa terhadap yang halal saja kita disuruh menahan diri, apalagi terhadap yang haram, maka selamanya kita diperintahkan untuk menjauhinya. Kedua, kita diperintahkan memperbanyak amalan sunnah seperti tarawih, tadarus, bershodaqoh, tidak bergunjing, tidak berbuat jahil dan bermacam-macam kebaikan lainnya. Hikmahnya adalah disamping kewajiban harus kita tunaikan, maka kita disuruh untuk mengiringi kewajiban tersebut dengan amalan yang baik sebagai wujud kecintaan kita kepada Alloh dan RosulNya. Ini mengajarkan kepada kita untuk rela berkorban dan ikhlas berbuat sepanjang untuk hal-hal yang diridhoi Alloh SWT. Kalau kita lakukan sholat fardhu maka ikhlaskan dengan sholat sunnahnya, kalau kita bayarkan zakat maka lebihkan zakatnya dan dengan senang hati, tidak pelit, kita pun bershodaqoh. Kalau ada yang perlu bantuan, dan kewajiban kita membantunya, maka mari kita bantu, kalau bisa lebih dari yang ia butuhkan. Ketiga, kita diperintahkan menebarkan kasih sayang terhadap sesama, apalagi terhadap anak-anak yatim/piatu/yatim-piatu, orang-orang miskin, terlebih lagi kepada kedua orangtua kita. Hikmahnya adalah kita disuruh memupuk semangat ukhuwah/persaudaraan/solidaritas dalam kebersamaan, sebagaimana hadits Nabi SAW bahwa kita ini ibarat tubuh yang satu, apabila satu bagian sakit, maka bagian lainnya turut terasa sakit. Ini mengajarkan kepada kita untuk menjaga hablum minannas (hubungan baik antar sesama) seiring dengan hablum minalloh (hubungan baik terhadap Alloh SWT).
Saudara-saudaraku Jamaah Jum’at yang dirahmati Alloh,
Hari ini Idul Fitri 1431 H, sebagai orang yang beriman yang telah ditempa oleh Romadhon dan insyaalloh tercapai derajat taqwa, saya yakin dan percaya bahwa zakat fitrah telah kita tunaikan semua, bahkan mungkin sekaligus dengan zakat harta dari harta yang telah diamanahkan Alloh kepada kita. Dengan zakat fitrah kita sucikan jiwa dari hal-hal buruk yang mungkin mengurangi atau merusak pahala puasa kita, dan dengan zakat harta kita sucikan harta kita dari kemungkinan adanya harta yang diperoleh dengan cara haram di dalam harta kita. Setelah disucikan, maka hendaklah kita sinari, kita cahayai, kita buat mengkilap dengan memperbanyak shodaqoh kepada fakir miskin, kita perbanyak infaq harta di jalan Alloh, dan kita berikan hadiah sebagai pengiring silaturrohmi sesama saudara kita. Kalau diibaratkan puasa adalah sebuah benda, maka zakat adalah pembersihnya, dan shodaqoh dan infaq di jalan Alloh sebagai pembuat mengkilapnya sehingga bersinar menyenangkan mata yang memandangnya. Maka bagus tidaknya benda itu tergantung dengan bagus tidaknya puasa, makin bagus kualitas puasa makin bagus pula benda yang dihasilkannya. Makin sempurna zakat yang ditunaikan, makin bersih benda yang kita miliki. Dan makin bagus dan banyak shodaqoh dan infaq di jalan Alloh yang diberikan makin mengkilap dan bersinar benda tersebut sehingga enak dipandang dan menakjubkan. Hal ini disebutkan di dalam sebuah hadits yang dinilai shahih oleh Imam al-Hakim berdasarkan kriteria Imam Muslim, Abu Hurairah Ra meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, ”Satu dirham telah mengungguli seratus ribu dirham”. Seorang sahabat bertanya, ”Bagaimana hal itu bisa terjadi, wahai Rasulullah?” Rasulullah Saw menjawab, ”Seseorang mempunyai harta yang banyak melimpah ruah, lalu ia mengambil dari sebagian hartanya itu sebesar seratus ribu dirham lalu disedekahkannya, dan seseorang yang lain hanya memiliki harta dua dirham, lalu satu dirhamnya disedekahkannya. Maka laki-laki yang kedua ini telah bersedekah dengan separuh hartanya yang nilainya di sisi Alloh lebih dari 100 ribu dirham”. Dengan demikian, seharusnya semakin banyak harta yang kita miliki, semakin banyak pula yang kita zakatkan, yang kita shodaqohkan, yang kita infaqkan di jalan Alloh, karena kalau tidak, kelak di hari pembalasan amalnya akan dikalahkan jauh berada di bawah orang-orang yang miskin.
Saudara-saudaraku Jamaah Jum’at yang dirahmati Alloh,
Walaupun Romadhon telah berlalu dan amal sholih pun insya-alloh telah kita tabung serta akhlak mulia selama romadhon telah kita bina, mari kita teruskan tarbiyah romadhon setelah romadhon, karena siapa yang beramal karena Alloh, dia akan terus menjaga konsistensinya kepada Alloh, tetapi siapa yang beramal karena romadhon, dia akan terputus dan belum tentu beroleh kesempatan sampai romadhon berikutnya. Selanjutnya marilah pada hari yang fitri ini kita saling memaafkan terhadap semua kesalahan dan kekhilafan, karena tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat salah ataupun khilaf terhadap sesama, sekecil apapun kesalahan itu, disadari maupun tidak disadari. Dan sebaik-baik umat Muhammad adalah orang yang memaafkan orang lain sebelum orang itu meminta maaf kepadanya, dan balasannya kelak ia akan bersama Muhammad Rosululloh SAW berdampingan di dalam surgaNya. Marilah kita kokohkan kembali tali silaturrohmi yang mungkin sudah rapuh, kita sambung kembali apabila sempat terputus, sehingga dapat kita nikmati kehidupan yang indah dalam kebersamaan. Semoga Alloh berkenan mengampuni dan memberikan hidayahNya kepada kita semua. Amin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 November 2010 in Uncategorized

 

MENYIKAPI PERBEDAAN DENGAN AKHLAQUL KARIMAH

KHUTHBAH JUM’AT
MENYIKAPI PERBEDAAN DENGAN AKHLAQUL KARIMAH
Oleh Ustadz Susanto SHI, S.AP.

Saudara-saudaraku kaum muslimin dan mukminin yang insya-alloh senantiasa dalam naungan rahmat Alloh,
Pada jum’at yang berbahagia ini, mari kita sama-sama memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Alloh SWT yang telah memberikan kesehatan dan kekuatan serta kesempatan kepada kita untuk memenuhi panggilanNya, yaitu menunaikan ibadah shalat Jum’at dengan penuh iman di dada. Shalawat dan salam marilah kita haturkan kepada yang mulia nabi besar Muhammad SAW yang dengan perantaraan beliau kita dapat menikmati islam dan iman yang kita rasakan sekarang ini. Juga kepada seluruh ahlil bait beliau dan para sahabat beliau serta para generasi penerusnya yang terus menerus gigih memperjuangkan Islam hingga akhir zaman nanti.
Selanjutnya mari kita sama-sama meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Alloh SWT dengan iman yang semakin kokoh terhujam di dada dan takwa yang benar-benar terwujud dalam realita.

Saudara-saudaraku kaum muslimin dan mukminin yang insya-alloh senantiasa dalam naungan rahmat Alloh,

Kita sering menyaksikan perselisihan bahkan perpecahan di antara kita karena perbedaan pemahaman terhadap suatu permasalahan agama, padahal hal itu tidak semestinya terjadi, sebagaimana firman Alloh di dalam surat Ali Imron : 103 yang artinya : (Berpegang-teguhlah kamu semua dengan tali Alloh dan jangan berpecah belah)

Ayat ini mengandung dua perintah yang menyatu, yang harus dilaksanakan oleh kita kaum mukminin, yaitu berpegang pada tali Alloh dan tidak berpecah belah.
Abu Sa’id Al-Khudri RA berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Kitabullah adalah tali Allah yang memanjang dari langit hingga bumi”. (HR. At-Tirmidzi, hasan gharib ).
Abu Syuraih Al-Khuza’i RA berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah tali penghubung, dimana salah satu ujungnya berada di sisi Allah dan ujung lainnya ada di tengah-tengah kalian, maka berpegang teguhlah padanya, sungguh kalian tidak sesat dan binasa jika berpegang teguh padanya.” (Shahih Ibnu Hibban, 12/165).
Kalimat “jangan berpecah belah” dalam ayat tersebut menurut tafsir Ibnu Katsir, 2/83 berarti peringatan Allah kepada umat Islam untuk bersatu dalam persaudaraan Islam dan larangan untuk berpecah belah yang dapat menyebabkan lemahnya umat Islam
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah menyukai tiga hal dan membenci tiga hal. Tiga hal yang disukai Allah adalah: Menyembah hanya kepada Allah dan tidak mempersekutukanNya dengan suatu apapun, Berpegang teguh dengan tali Allah dan jangan berpecah belah, Saling memberi nasihat dan bukan saling mencela. Dan tiga hal yang dimurkai Allah adalah: Mempercayai isu/berita yang tak jelas kebenarannya, Bertanya yang tidak pada tempatnya. Berbuat mubazir atau berfoya-foya.” (Shahih Muslim; 1715).
Didalam hadits lain Rosululloh SAW bersabda, “Janganlah kalian saling hasud/dengki, saling marah, saling memutuskan (persaudaraan) dan janganlah kalian saling bermusuhan, akan tetapi jadilah hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim).

Saudara-saudaraku kaum muslimin dan mukminin yang insya-alloh senantiasa dalam naungan rahmat Alloh,

Perbedaan pendapat dan pemahaman tidaklah dilarang dalam agama kita, namun jangan sampai menimbulkan perpecahan dan permusuhan diantara kita. Kita harus mau berlapang dada dengan pemahaman orang lain yang berbeda dengan kita, kita tidak boleh merasa bahwa pemahaman kitalah yang paling benar dan pemahaman orang lain salah, kita tidak boleh menganggap remeh atau menganggap sepele pemahaman orang lain, sepanjang mempunyai dalil-dalil yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, walaupun sudut pandangnya berbeda. Kita harus menyadari firman Alloh yang berbunyi WA MAA UUTIITUM MINAL ‘ILMI ILLAA QOLIILA (Tidaklah kamu diberi ilmu, melainkan hanya sedikit). WA LAA TUZAKKUU ANFUSAKUM (Dan janganlah kamu menganggap dirimu yang paling suci). Kebenaran mutlak hanya ada pada Alloh, dan yang paling memahami kebenaran yang datang dari Alloh adalah para RosulNya. Kita dengan ilmu yang diamanahkan Alloh kepada kita yang cuma sedikit itu hanyalah berusaha sama-sama mendekati kebenaran Alloh yang disampaikan oleh RosulNya.

Dalam suatu hadits diceritakan bahwa pada masa Nabi Muhammad SAW masih hidup, beberapa sahabat pernah berbeda pendapat, karena berbeda penafsiran terhadap perintah beliau. Kala itu di dalam perjalanan Rosululloh bersabda, “Jangan kalian shalat ashar sebelum sampai di daerah bani Quraizhah.” Ketika masuk waktu ashar namun belum sampai di daerah Bani Quraizhah, beberapa sahabat berbeda pendapat, ada yang shalat ashar karena waktu sudah masuk, sebagian lain tidak shalat ashar karena belum sampai di daerah Bani Quraizhah sebagaimana perintah Rosululloh (dan mereka baru sholat ashar setelah sampai di daerah Bani Quraizhah). Mereka terbagi dalam 2 kelompok. Kedua kelompok ini diceritakan kepada Nabi Muhammad SAW, dan beliau membenarkan keduanya. sebab, dari sudut pandang masing-masing pihak, maka keduanya benar.
Dalam hadits lain yang bersumber dari Qatadah diceritakan bahwa Rasulullah SAW bertanya kepada Abu Bakar RA: “Kapan engkau witir?” Abu Bakar menjawab: “Aku witir pada awal malam sebelum tidur” Lalu Beliau bertanya kepada Umar RA: “Kapan engkau witir?” Umar menjawab: “Pada akhir malam.” Maka Rasulullah bersabda kepada Abu Bakar: “Engkau ini orangnya hati-hati.” Dan bersabda kepada Umar: “Engkau ini menunjukkan keteguhanmu.” (Jadi Rosululloh SAW membenarkan keduanya walaupun secara zhahir ayat sesuai dengan ayat awal surat Al Muzammil Umar yang benar). (HR. Abu Daud, Kitab Ash Sholaah Bab Fil Witri Qablash Sholah, Juz. 4, hal. 220, No hadits. 1222. HR Ahmad, Juz. 28, Hal. 352, no hadits. 13803. HR Al Hakim, Al Mustadrak ‘Alash Shahihain, Juz.3, Hal. 143, No hadits. 1070. Al Hakim mengatakan: “Shahih sesuai syarat Imam Muslim.”)

Saudara-saudaraku kaum muslimin dan mukminin yang insya-alloh senantiasa dalam naungan rahmat Alloh,
Jadi jelaslah bahwa perbedaan pemahaman di dalam umat islam merupakan suatu hal yang pasti terjadi, namun yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana kita menyikapi perbedaan pemahaman itu dengan bijaksana dan dengan akhlakul karimah sebagaimana Rasulullah SAW mencontohkan sikap arifnya, demikian juga para sahabat, tabi’in dan tabi’tabi’in serta dipanuti pula oleh para ulama besar terdahulu. Dr. Umar bin Abdullah Kamil dalam kitabnya “Adabul Hiwar wal Qowaaidul Ikhtilaf, hal. 32, menuliskan,”Telah ada perselisihan sejak masa para imam besar panutan: imam Abu Hanifah, Malik, Asy Syafi’i, Ahmad, Ats Tsauri, Al Auza’i, dan lainnya. Tak satu pun mereka memaksa yang lain untuk mengubah agar mengikuti pendapatnya, atau melemparkan tuduhan terhadap keilmuan mereka, atau terhadap agama mereka, lantaran perselisihan itu.”
Landasan mereka adalah QS Alhujurot : 11 ( Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik dari yang merendahkan…)

Itulah kunci persatuan umat dan damainya kaum muslimin.

Namun berbeda dengan kenyataan yang sering terjadi pada masa sekarang ini, ada orang bahkan banyak yang suka membangga-banggakan ilmunya, bangga dengan kelompoknya, bangga dengan pengajiannya, seakan-akan ilmunya yang paling benar, kelompoknya yang ahlussunnah calon pewaris surga, pengajiannya sendiri yang berdasarkan Qur’an dan Hadits, dan menganggap orang lain salah, bahkan mencela dan menganggap orang lain sesat, ahlul bid’ah dan sebagainya. Mereka menampilkan Islam dengan wajah yang keras, katanya bukan keras, tetapi tegas, padahal itu semua pengaruh dari kepribadian mereka sendiri, bukan kepribadian Islam yang penuh rohmah. Fitnah dan perselisihan bahkan permusuhanpun terjadi. Lantaran tidak berakhlakul karimah, memvonis sesat dan menyerang pihak lain yang berbeda pemahaman. Padahal tidaklah demikian yang seharusnya.

Imam Abu Nu’aim al Asbahany dalam kitabnya Hilyatul Auliya’, Juz. 3, hal. 133. mengutip perkataan Imam Sufyan ats Tsauri, “Jika engkau melihat seorang melakukan perbuatan yang masih diperselisihkan, padahal engkau punya pendapat lain, maka janganlah kau mencegahnya.”

Al Imam Asy Syahid Hasan al Banna dalam kitabnya Majmu’atur Rosa-il, hal. 187 menulis bahwa ketika Khalifah Abu Ja’far menyuruh Imam Malik agar semua orang berpegang kepada kitab Imam Malik bernama Al Muwatho’,maka Imam Malik menjawab,”Ingatlah bahwa para sahabat Rasulullah telah berpencar-pencar di beberapa wilayah. Setiap kaum memiliki ahli ilmu. Maka apabila kamu memaksa mereka dengan satu pendapat, yang akan terjadi adalah fitnah sebagai akibatnya.”

Dalam kitab Al Adab Asy Syar’iyyah, Juz 1, hal. 212. dituliskan “Imam Ahmad berkata dalam sebuah riwayat Al Maruzi, tidak seharusnya seorang ahli fiqih membebani manusia untuk mengikuti pemahamannya dan tidak boleh bersikap keras kepada mereka. Berkata Muhanna, aku mendengar Ahmad berkata, ‘Barangsiapa yang mau minum nabidz (air perasan anggur) ini, karena mengikuti imam yang membolehkan meminumnya, maka hendaknya dia meminumnya sendiri.”

Saudara-saudaraku kaum muslimin dan mukminin yang insya-alloh senantiasa dalam naungan rahmat Alloh,
Jadi, bukanlah aib dan cela manakala kita berbeda pendapat, berbeda pemahaman. Tetapi yang aib dan cela adalah sikap fanatik (ta’ashub) dengan satu pemahaman saja dan memvonis pemahaman orang lain salah. Para imam madzhab yang masyhur tidak pernah mengatakan bahwa pemahamannya yang paling benar dan imam lainnya salah, dan tidak pernah memvonis bid’ah kepada imam yang beda pemahaman dengannya. Yang pernah terjadi dalam sejarah hanyalah beberapa ulama’ bermadzhab hanafi, tetapi hanya sebagian kecil, dan bukan pula Imam Hanafinya, dan segolongan ulama’ diluar madzhab yang empat.

Marilah kita semua menjadikan islam ini rahmat bagi semuanya, bersatu dalam kebenaran, bersaudara dalam kedamaian, bijaksana dalam tindakan, santun dalam ucapan, dan sabar dalam perbedaan.
NASHRUN MINALLOOHI WA FAT HUN QORIB.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 27 Maret 2010 in Uncategorized

 

Sholat Berjamaah

KETENTUAN SHOLAT BERJAMA’AH
Oleh
Ustadz Susanto SHI, S.AP.

PEMAHAMAN UMUM TENTANG MASJID

Dalam pembahasan ini semua bangunan yang bentuknya sedemikian rupa dan digunakan untuk mayarakat umum sebagai tempat ibadah umat islam dinamakan Masjid (istilah Musholla, langgar, surau, atau lainnya secara istilah hukum apabila dipergunakan sebagai tempat ibadah umat islam untuk mayarakat umum maka dipersamakan dengan Masjid). (Rujuk QS Attaubah : 17-18, Alhajj : 40, Annur : 36, Albaqoroh : 114 dan Alhadits).
Namun bila bangunan tersebut menjadi bagian bangunan lain atau termasuk ke dalam suatu bangunan lain maka tidak dinamakan Masjid. Juga bangunan yang hanya diperuntukkan secara individual muslim maka tidak dinamakan Masjid.

SHOLAT YANG PALING AFDHOL ADALAH BERJAMAAH DAN BERJAMAAH YANG PALING AFDHOL ADALAH DI MASJID

Dari Ubay Ibnu Ka’ab bahwa Rosululloh bersabda: “Sholat seorang bersama seorang lebih baik daripada sholatnya sendirian, sholat seorang bersama dua orang lebih baik daripada sholatnya bersama seorang, dan jika lebih banyak lebih disukai oleh Alloh ‘Azza wa Jalla.” (HR Abu Dawud dan Nasa’i. Hadits shohih menurut Ibnu Hibban).

Abu Huroiroh berkata, “Saya mendengar Rosululloh bersabda, ‘Sholat berjamaah itu melebihi sholat salah seorang di antaramu sendirian dengan dua puluh lima bagian (dalam satu riwayat: derajat ) (HR Bukhori : 5/227).

Hadis riwayat Ibnu Umar ia berkata:Bahwa Rosululloh bersabda: Sholat berjamaah lebih utama dua puluh tujuh derajat dari Sholat sendiri (HR Muslim no 1038).

Abu Huroiroh berkata, “Rosululloh bersabda, ‘Sholat seseorang dengan berjamaah itu dilipatkan atas Sholat nya di rumahnya dan di pasarnya dengan dua puluh lima kelipatan.’ Demikian itu karena apabila dia berwudhu lalu ia membaikkan wudhunya, kemudian ia keluar (berangkat) ke masjid dengan niat semata-mata untuk Sholat, maka setiap langkahnya ditinggikan dengannya satu derajat baginya dan dihapus dengannya satu kesalahan. Apabila ia Sholat, maka malaikat senantiasa memohonkan rahmat atasnya selama ia di tempat Sholatnya, (HR Bukhori 1/160). Malaikat mengucapkan, ‘Ya Alloh, berilah rahmat atasnya (dan dalam satu riwayat: Ya Alloh, ampunilah dia). Ya Alloh, sayangilah ia (selama ia belum berhadats).’ (HR Bukhori 1/52].”)

Ibnu Mas’ud berkata: ”Andaikata kamu sholat di rumah seperti kebiasaan orang yang tidak suka berjama’ah berarti kamu meninggalkan sunnah Nabimu, dan bila kamu meninggalkan sunnah Nabimu pasti kamu akan tersesat. Ketahuilah bawa tidak ada orang yang meninggalkan sholat berjama’ah (dengan sengaja tanpa adanya udzur/halangan sesuai syari’at) kecuali hanya orang-orang munafik. Sesungguhnya Rosululloh telah mengajarkan kepada kita jalan yang telah mendapat petunjuk, dan jalan yang ditunjuki adalah sholat di masjid yang di dalamnya dikumandangkan adzan”(Shohih Muslim 1/453 bab 44 kitab al Masajid wa mawadhi’ush sholat no. 654)

Abu Darda’ berkata, aku mendengar Rosululloh SAW bersabda:
“Bila ada tiga orang yang tinggal di satu kota atau desa tidak didirikan sholat, mereka akan dikuasai oleh syetan, maka hendaklah engkau senantiasa mengerjakan sholat berjama’ah” ((HR Tirmidzi)

Alloh SWT berfirman :
Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitulloh) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. dan Jadikanlah sebahagian maqom Ibrohim sebagai tempat Sholat. dan telah Kami perintahkan kepada Ibrohim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thowaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud”. (QS Albaqoroh : 125)
Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Alloh hanyalah orang-orang yang beriman kepada Alloh dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan Sholat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Alloh, Maka mudah-mudahan merekalah orang-orang yang termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS Attaubah : 18)
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan Sholat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Alloh dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Alloh; Sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS Attaubah : 71)

Dari Ibnu Umar dari nabi SAW bersabda: ((apabila isteri-isteri kalian minta izin untuk pergi ke masjid di malam hari, maka izinkanlah)) Shohih Bukhori no (662), Muslim no (669). Ini menunjukkan bahwa wanita juga boleh berjamaah di Masjid, apabila kondisinya memang aman, tetapi mereka tetap lebih afdhol di rumah

Halangan yang membolehkan adanya keringanan untuk tidak sholat berjama’ah di Masjid antara lain:
a) Takut dan sakit. (HR. Abu Dawud)
b) Hujan. (HR. Ibnu Majah)
c) Ketiduran/kelupaan (HR Ahmad dan Imam Empat kecuali Tirmidzi. Hadits shohih menurut Hakim. Ibnu Hibban juga mengeluarkan hadits tentang ini BULUGHUL MAROM)
f) Makanan yang telah dihidangkan yang memang menuntut disegerakan, serta menahan hajat besar atau ingin buang air saat masuk waktu sholat/adzan berkumandang dan tidak memungkinkan untuk ke Masjid (Al Hadits [Hukum-hukum seputar sholat, hal. 133])

Alloh dan RosulNya mensyariatkan sholat berjamaah sebagai suatu yang tidak boleh ditinggalkan kecuali memang ada udzur yang dibolehkan oleh syariat. Hal ini tercermin di dalam surat Annisa : 102 sbb :
”Dan apabila engkau berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu engkau hendak mendirikan sholat bersama-sama mereka, Maka hendaklah sebagian dari mereka berdiri (sholat) besertamu dan tetap menyandang senjata mereka, kemudian apabila mereka (yang sholat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), Maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk bersiaga terhadap musuh), dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum sholat bersamamu, lalu sholatlah mereka bersamamu dengan tetap menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan perbekalanmu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus, dan tidak mengapa bila kamu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan/terganggu karena hujan atau karena kamu sakit; namun tetap siagalah kamu. Sesungguhnya Alloh telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu.

Ayat tersebut menggambarkan bahwa dalam keadaan perangpun Rosululloh masih melakukan sholat berjamaah, apalagi dalam keadaan aman dan nyaman.

ADZAN / MUADZIN
DAN
KETENTUAN BAGI YANG MENDENGARKAN

Adzan merupakan panggilan untuk melakanakan sholat, karena itu lakukan dengan suara yang kuat, terang dan jelas, serta tidak tergesa-gesa. Sedangkan bagi yang mendengarnya agar segera memenuhi panggilan adzan, karena pada hakekatnya kita memenuhi panggilan Alloh. Bersegeralah masuk masjid.

Umar bin Abdul Aziz berkata (kepada orang yang azan), “Kumandangkanlah adzan dengan jelas dan terang. Kalau tidak, hendaklah engkau diganti.” (HR Bukhori, dimaushulkan oleh Ibnu Abi Syaibah (1/154) dengan sanad shohih).

Dari Abdullah bin Abdur Rahman bin Abi Sho’sho’ah al Anshori, dari al-Mazini bahwa Abu Sa’id al-Khudri berkata kepadanya, ”Apabila anda hendak adzan buat sholat, maka keraskanlah suara adzanmu itu. Karena, barangsiapa yang mendengar gema suara adzan, baik jin maupun manusia atau lain-lainnya, semuanya akan menjadi saksi baginya pada hari kiamat nanti. Begitulah kudengar dari Rosululloh.” (HR Bukhori).

Dari Abu Mahdzuroh bahwa Nabi SAW kagum dengan suaranya, kemudian beliau mengajarinya adzan. (Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah)
Dari Utsman Ibnu Abul’Ash ia berkata bahwa Rosululloh SAW bersabda,”Apabila engkau menjadi imam mereka, perhatikanlah orang yang paling lemah dan angkatlah seorang muadzin yang tidak menuntut upah dari adzannya.” (Diriwayatkan oleh Imam Lima. Ahlul Hadits; derajat hadits hasan menurut Tirmidzi dan shahih menurut Hakim).
Abu Juhaifah berkata: Aku pernah melihat Bilal adzan, dan aku perhatikan mulutnya kesana kemari (komat kamit dan dua jari-jarinya menutup kedua telinganya. (Diriwayat Ahmad dan Tirmidzi. Hadits shahih menurut Tirmidzi; Menurut Ibnu Majah: Dia menjadikan dua jari-jarinya menutup kedua telinganya).

Abu Sa’id al-Khudri mengatakan bahwa Rosululloh bersabda, “Apabila kamu mendengar adzan, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan muadzin (orang yang mengumandangkan azan) itu.” (HR Bukhori)

Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif berkata, “Saya mendengar Muawiyah bin Abu Sufyan ketika ia duduk di atas mimbar pada hari Jumat, ketika muadzin beradzan dan mengucapkan, ‘Allohu Akbar Allohu Akbar’ (Allah Mahabesar 2x), Muawiyah mengucapkan, ‘Allohu Akbar Allohu Akbar’. Muadzin mengucapkan, ‘Asyhadu alla-ilaha illalloh’ (saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah), Muawiyah mengucapkan, ‘Dan saya.’ Muadzin mengucapkan, ‘Asyhadu anna Muhammadar Rosululloh’ (saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah), Muawiyah mengatakan, ‘Dan saya juga.’ [Ketika muadzin mengucapkan, ‘Hayya ‘alash sholah’, Muawiyah mengucapkan, ‘La haula wa la quwwata illa billah.” (HR Bukhori :1/152 )

Hadis riwayat Abu Huroiroh ia berkata: Dari Nabi SAW, Beliau bersabda: Sesungguhnya setan, apabila mendengar azan untuk sholat, ia berlari menjauh terbirit-birit sampai tidak mendengarnya lagi. Ketika azan telah berhenti, ia kembali menghasut. Apabila mendengar iqomat, ia pergi sampai tidak mendengarnya. Ketika iqomat telah berhenti, ia kembali menghasut lagi (HR Muslim no 582, marfu’)

Jabir bin Abdullah mengatakan bahwa Rosululloh bersabda, “Barang siapa yang ketika mendengar azan kemudian ia mengucapkan :

ALLOHUMMA ROBBA HAZIHIDDA’WATITTAMMATI WASSOLATIL QO-IMAH, ATI MUHAMMADANIL WASILATA WAL FADILAH, WAB’ATS HU MAQOMAM MAHMUDANILLAZI WA’ADTAH, maka pastilah ia akan mendapatkan syafaatku pada hari kiamat.” (HR Bukhori).

Setelah Muadzin Selesai Mengumandangkan Adzan, Maka Yang Mendengarnya Mengucapkan ASHADU ALLA ILAHA ILLALLOHU WAHDAHU LA SARIKA LAH, WA ASHADU ANNA MUHAMMADAN ABDUHU WA ROSULUH, RODITU BILLAHI ROBBAW WA BIL ISLAMI DINAW WA BI MUHAMMADIR ROSULA [HR. Muslim 1/240 no. 386]

Didalam hadits lain Rosululloh SAW bersabda,”Apabila kalian mendengar muadzin maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkannya lalu bersholawatlah untukku karena sesungguhnya orang yang bersholawat untukku satu kali, maka Alloh akan bersholawat untuknya sepuluh kali” [HR. Muslim 1/288 no. 384)]

Bahwasanya Rosululloh SAW bersabda,”Ucapkanlah seperti apa yang mereka (para muadzdzin) ucapkan dan jika engkau telah selesai, mohonlah kepadaNya, niscaya permohonanmu akan dikabulkan”. [Lihat Shohihul Wabili Shoyyib oleh Syaikh Salim bin Id Al-Hilaly, hal: 183]

Setelah adzan jangan langsung iqomah, berikan jeda waktu minimal sepanjang sholat sunnah 2 rekaat, barulah lakukan iqomah.

Abdullah bin Mughaffal berkata, “Nabi bersabda, ‘Di antara setiap dua azan (yakni antara azan dan iqamah) terdapat sholat, di antara dua azan terdapat sholat.’ Kemudian beliau bersabda pada kali ketiga, ‘Bagi siapa yang mau.'” (HR Bukhori)

Iqomah dilakukan atas perintah imam (ketika imam sudah berdiri di tempatnya), atau bila yakin sudah ada imam yang siap menjadi imam. Jangan lakukan iqomah sebelum ada imam yang siap.

Abu Qotadah berkata, “Rosululloh bersabda, ‘Apabila sholat didirikan, maka janganlah kamu berdiri sehingga kamu melihatku (dan hendaklah kamu bersikap tenang).'” (HR Bukhori)

Dari Abu Huroiroh, bahwa Rosululloh bersabda,”Apabila Imam Mengatakan, ‘Tunggu di Tempat Kalian,” Maka Hendaklah Mereka Menunggunya.” (HR Bukhori)

YANG MENJADI IMAM

Seleksi pertama :
Imam adalah orang yang telah teruji imannya lebih baik diantara jamaah (rujuk QS Albaqoroh : 124). Apabila dianggap sama semua, maka :

Seleksi kedua :
Imam adalah orang yang lebih baik bacaan Alqur’annya diantara jamaah
Seleksi ini secara berurut memenuhi kriteria :
a) Yang lebih banyak hafal surat Alqur’an secara fasih menurut ilmu tajwid
b) Yang lebih faham tentang surat Alqur’an yang telah dihafalnya tsb
c) Yang lebih baik / banyak dalam mengamalkan Alqur’an yang telah difahaminya tsb
Apabila dianggap sama semua, maka :
Seleksi ketiga :
Imam adalah orang yang lebih faham dengan sunnah/hadits Rosululloh SAW diantara jamaah
Seleksi ini secara berurut memenuhi kriteria :
a) Yang lebih banyak hafal/mengetahui sunnah/hadits Rosululloh SAW secara ilmu hadits
b) Yang lebih baik / banyak dalam mengamalkan sunnah/hadits yang telah difahaminya tsb
Apabila dianggap sama semua, maka :

Seleksi keempat :
Imam adalah orang yang lebih dahulu hijrah diantara jamaah
Hijrah dalam hal ini mempunyai makna :
1) hijrah secara fisik, yaitu pindah dari tempat yang tidak kondusif ke tempat yang kondusif untuk pelaksanaan iman dan islam (analog : Makkah ke Madinah pada masa Nabi)
2) hijrah secara non fisik, yaitu pindah dari keadaan/perbuatan/sikap hidup yang tidak islami ke keadaan/perbuatan/sikap hidup yang islami (analog : masyarakat Makkah yang kafir/musyrik ke masyarakat Madinah yang tumbuh iman dan islamnya)
Apabila dianggap sama semua, maka :

Seleksi kelima :
Imam adalah orang yang lebih dahulu masuk Islam diantara jamaah (atau yang yang lebih dahulu mengamalkan kehidupan yang islami dalam kehidupannya)
Apabila dianggap sama semua, maka :

Seleksi keenam :
Imam adalah orang yang lebih tua umurnya

Dengan catatan :
Lelaki menjadi imam bagi lelaki/perempuan/banci/anak-anak yang belum baligh
Banci pria menjadi imam bagi perempuan/banci perempuan & lelaki/anak-anak yang belum baligh; sedangkan banci perempuan menjadi imam bagi perempuan/banci perempuan/anak-anak yang belum baligh
Perempuan menjadi imam bagi perempuan/banci perempuan/anak-anak yang belum baligh

Dalil-dalil :
Lelaki pemimpin bagi wanita karena Alloh telah memberikan keutamaan kepada sebagian mereka (para lelaki) diatas sebagian yang lain (para wanita) (QS Annisa’: 34)

Dari Ibnu Mas’ud bahwa Rosululloh bersabda: ”Yang mengimami suatu kaum adalah orang yang paling pandai dalam membaca al-Qur’an di antara mereka (fasih, faham dan mengamalkan). Jika dalam bacaan mereka sama, maka yang paling mengetahui tentang Sunnah di antara mereka (faham dan mengamalkan). Jika dalam hal Sunnah mereka sama, maka yang paling dahulu berhijrah di antara mereka. Jika dalam hijrah mereka sama, maka yang paling dahulu masuk Islam di antara mereka.” Dalam suatu riwayat: “Yang paling tua umurnya.” “Dan Janganlah seseorang mengimami orang lain di tempat kekuasaannya dan janganlah ia duduk di rumahnya di tempat kehormatannya kecuali dengan seidzinnya.” (HR Muslim)

Amar Ibnu Salamah berkata: Ayahku berkata: Aku sampaikan sesuatu yang benar-benar dari Rosululloh, Beliau bersabda: “Bila waktu sholat telah datang, maka hendaknya seorang di antara kamu beradzan dan hendaknya orang yang paling banyak menghapal Qur’an di antara kamu menjadi imam.” Amar berkata: Lalu mereka mencari-cari dan tidak ada seorang pun yang lebih banyak menghapal Qur’an melebihi diriku, maka mereka memajukan aku (untuk menjadi imam) padahal aku baru berumur enam atau tujuh tahun (tapi telah baligh). (HR Bukhari, Abu Dawud dan Nasa’i)

Dari Abdullah bin Umar, Nabi saw. bersabda: “Jadikanlah imam olehmu, orang-orang yang terpilih diantara kamu, karena mereka adalah perantara kamu dengan Allah”.

Dari hadits Jabir bahwa Rosululloh bersabda “Janganlah sekali-kali seorang perempuan mengimami orang laki-laki, orang Badui mengimami orang yang berhijrah, dan orang yang maksiat mengimami orang mu’min.” (HR Ibnu Majah sanad lemah)
Barang siapa mengimami suatu kaum, maka apabila sempurna (mengimami Sholat), maka baginya pahala sempurna Sholat, begitu juga bagi makmum, namun jika ia (imam) tidak menyempurnakan maka bagi makmum pahala yang sempurna (Sholatnya sah), tetapi atas imam itu dosa. (HR. Ahmad)
Jika datang pemilik rumah dan orang yang menyewa rumah tersebut, maka penyewa rumah lebih utama untuk menjadi imam. Karena penyewa rumah lebih berhak mempergunakan manfaat-manfaat dari rumah tersebut.
Jika datang pemilik budak belian dan budak belian dalam sebuah rumah yang dibangunkan oleh majikan (pemilik budak) untuk tempat tinggal budak tersebut, maka sang majikan lebih utama untuk menjadi imam. Karena majikan tersebut adalah pemilik rumah tersebut pada hakikatnya, bukan si budak belian.
Jika berkumpul selain majikan dan budak dalam rumah budak tersebut, maka si budak lebih utama menjadi imam. Karena budak tersebut lebih berhak dalam mengatur rumah tersebut.
Jika orang-orang tersebut di atas berkumpul di masjid bersama imam masjid, maka imam masjid tersebut adalah lebih utama menjadi imam. Karena telah diriwayatkan bahwa Abdullah Umar mempunyai budak yang Sholat dalam masjid, kemudian Ibnu Umar datang dan budaknya meminta beliau berdiri di depan sebagai imam. Ibnu Umar berkata: “Engkau lebih berhak menjadi imam di masjidmu!”
Jika imam dari orang-orang muslim berkumpul dengan pemilik rumah atau dengan imam masjid, maka imam dari orang-orang muslim tersebut adalah lebih utama, karena kekuasaannya adalah bersifat umum dan karena dia adalah pemimpin sedang orang-orang tersebut adalah orang-orang yang dipimpin; sehingga mendahulukan pemimpin adalah lebih utama.
Jika berkumpul orang musafir (orang yang dalam perjalanan) dan orang muqim (orang yang menetap), maka orang yang muqim adalah lebih utama. Karena sesungguhnya jika orang muqim menjadi imam, maka seluruhnya menyempurnakan Sholat sehingga mereka tidak berbeda. Dan jika orang musafir yang menjadi imam, maka mereka berbeda-beda dalam jumlah rakaat.
Jika orang merdeka berkumpul dengan budak belian, maka orang merdeka lebih utama. Karena menjadi imam itu adalah tempat kesempurnaan, sedangkan orang merdeka itu adalah yang lebih sempurna.
Jika orang yang adil dan orang yang fasik berkumpul, maka orang yang adil adalah lebih diutamakan, karena dia lebih utama.
Jika anak hasil zina berkumpul dengan lainnya, maka yang lainnya adalah lebih utama. Sayyidina Umar dan Mujahid menganggap makruh anak hasil zina menjadi imam, sehingga anak yang sah adalah lebih utama dari pada anak hasil zina.
Jika berkumpul orang yang dapat melihat dengan orang yang buta, maka menurut ketentuan nash dalam hal menjadi imam adalah bahwa kedua orang tesebut sama. Sebab orang yang buta itu mempunyai kelebihan karena dia tidak melihat hal-hal yang dapat melengahkannya. Sedang orang yang dapat melihat juga memiliki kelebihan, yaitu dapat menjauhkan diri dari najis.
Abu Ishaq Al-Maruzi berpendapat bahwa orang yang buta lebih utama. Sedangkan menurut Abu Ishaq As-Syairozi orang yang dapat melihat adalah lebih utama. Karena dia dapat menjauhi barang najis yang dapat merusak Sholat. Sedang orang yang buta dapat meninggalkan memandang kepada hal-hal yang dapat melengahkannya; dan hal tersebut tidak merusak Sholat

KETENTUAN SHOLAT BERJAMAAH

Posisi berdiri

1) Jika dua orang lelaki sholat berjamaah
Maka lelaki yang menjadi makmum berdiri sedekat mungkin di sebelah kanan imam (namun tidak sejajar dengan imam). Jika kemudian ada makmum lelaki yang menyusul (masbuq), maka makmum yang masbuq tersebut berdiri tepat di belakang imam, makmum yang terdahulu mundur ke belakang sejajar dengan makmum yang masbuq. Jika kemudian ada lagi makmum lelaki yang menyusul maka yang bersangkutan berdiri di sebelah kiri makmum yang berada tepat di belakang imam. Jika kemudian ada lagi makmum lelaki yang menyusul maka ia hendaknya berdiri di sebelah kanan makmum yang paling kanan. Jika ada lagi makmum lelaki yang menyusul maka hendaklah ia berdiri di sebelah kiri makmum yang paling kiri. Demikian seterusnya tertib posisi berdiri makmum lelaki adalah ISI KANAN, GENAPI KIRI secara berimbang.

2) Jika seorang lelaki menjadi imam dan seorang perempuan menjadi makmum
Maka perempuan yang menjadi makmum berdiri agak jauh di sebelah kiri imam (apalagi kalau bukan muhrim maka lebih jauh lagi). Jika kemudian ada makmum perempuan yang menyusul (masbuq), maka makmum yang masbuq tersebut berdiri tepat di belakang imam dan di sebelah kanan makmum yang pertama. Jika kemudian ada lagi makmum perempuan yang menyusul maka yang bersangkutan berdiri di sebelah kanan makmum yang berada tepat di belakang imam. Jika kemudian ada lagi makmum perempuan yang menyusul maka ia hendaknya berdiri di sebelah kiri makmum yang paling kiri. Jika ada lagi makmum perempuan yang menyusul maka hendaklah ia berdiri di sebelah kanani makmum yang paling kanan. Demikian seterusnya tertib posisi berdiri makmum perempuan adalah ISI KIRI, GENAPI KANAN secara berimbang.

3) Bila ada orang yang memenuhi persyaratan imam atau orang yang faham hukum/aturan sholat tetapi ia menjadi makmum, maka hendaklah ia berdiri paling dekat dengan imam, untuk menjaga kemungkinan kesalahan imam atau pergantian imam.

4) Makmum perempuan berdiri di belakang makmum lelaki

Anas bin Malik berkata, “Aku dan seorang anak yatim sholat bersama-sama di rumah kami di belakang Nabi, sedangkan ibuku, Ummu Sulaim, di belakang kami.” (HR Bukhori)

5) Bila ada makmum anak-anak, maka anak-anak berada di belakang lelaki dewasa, dan perempuan berada di belakang anak-anak.

Dari Abdurrohman bin Ghunm, dari Abu Malik Al Asy’arie, dari Rosululloh SAW, ”Sesungguhnya ia (pernah) mempersamakan antara empat rekaat dalam bacaan dan berdiri; dan menjadikan rekaat pertama adalah yang lebih panjang, agar orang-orang bisa menyusul (mengikuti jama’ah); dan menempatkan orang-orang dewasa di depan anak-anak, dan anak-anak di belakang mereka; dan perempuan di belakang anakanak” (HR Ahmad)

Dalil-dalil :

Dari Anas bahwa Nabi bersabda: “Tertibkanlah barisan (shof)-mu, rapatkanlah jaraknya, dan luruskanlah dengan leher.” (HR Abu Dawud dan Nasa’i. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban )

Dari Abu Huroiroh berkata: Rosululloh SAW bersabda: sebaik-baik shof (barisan) orang laki-laki adalah yang paling depan, dan yang paling buruk adalah yang paling belakang, dan sebaik-baik soaf wanita adalah yang paling belakang, dan yang paling buruk adalah yang paling depan. (HR. Muslim 440)

Wajib meluruskan shof dalam sholat dengan pundak, mata kaki, mengisi shof yang kosong, menyempurnakan yang paling depan lalu yang berikutnya, dan barangsiapa yang mengisi kekosongan, Alloh membangunkan baginya rumah di surga, dan Alloh mengangkat baginya satu derajat. (HR. Thabrani)

Dari Abu Mas’ud berkata: Rosululloh mengusap pundak kami dalam hal sholat, dan berkata: luruskan, dan janganlah berselisih sehingga hati kalian berselisih, hendaklah yang ada di belakangku orang-orang pandai, kemudian berikutnya, kemudian berikutnya. (HR. Muslim) 432

Ibnu Abbas berkata: Aku pernah sholat bersama Rosululloh pada suatu malam. Aku berdiri di samping kirinya. Lalu beliau memegang kepalaku dari belakang dan memindahkanku ke sebelah kanannya (Bulughul Maram -Ibnu Hajar Al-Ashqolani- Kitab Sholat ).

Anas berkata: Rosululloh sholat, lalu aku dan seorang anak yatim berdiri di belakangnya sedang Ummu Salamah berdiri di belakang kami. (Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Bukhari).

Dari Wabishoh Ibnu Ma’bad bahwa Rosululloh pernah melihat seseorang sholat di belakang shof sendirian. Maka beliau menyuruhnya agar mengulangi sholatnya. (HR Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi. Hadits shohih menurut Ibnu Hibban).
Dari Tholq Ibnu Ali katanya “Tidak sempurna sholat seseorang yang sendirian di belakang shof.” Thabrani menambahkan dalam hadits Wabishoh: “Mengapa engkau tidak masuk dalam shof mereka atau engkau tarik seseorang?” (Bulughul Maram-Ibnu Hajar Al-Ashqolani-Kitab Shalat)

Hal-hal yang mestinya dilakukan imam sebelum sholat :
1) imam disunnahkan menghadap kepada makmum dengan wajahnya sambil berkata: luruskan shof kalian, dan rapatkan. (HR. Bukhori).
2) atau mengatakan: luruskan shof kalian, karena meluruskan shof merupakan bagian dari mendirikan sholat. (muttafaq alaih).
3) atau mengatakan: luruskan shof, sejajarkan antara pundak, isilah shof yang kosong, jangan memberikan tempat bagi setan, barangsiapa yang menyambung shof, maka Alloh akan menyambungnya, dan siapa yang memutuskan shof, maka Alloh akan memutuskannya. (HR. Abu Daud dan Nasa’i)
4) atau mengatakan: luruskan, luruskan, luruskan. (HR. Nasa’i)

Aturan saat sedang sholat berjamaah

1) Tidak boleh mendahului imam dalam setiap gerakan. Afdholnya selesaikan takbirotul intiqol imam, barulah makmum mengikut.

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا الْمُغِيرَةُ يَعْنِي الْحِزَامِيَّ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلَا تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا وَإِذَا صَلَّى جَالِسًا فَصَلُّوا جُلُوسًا أَجْمَعُونَ
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِهِ
Dari Abu Huroiroh, ia berkata:Bahwa Rosululloh bersabda: Sesungguhnya imam itu untuk diikuti. Karena itu, maka janganlah kalian menyalahinya (mendahului atau sangat terlambat). Apabila ia bertakbir, maka bertakbirlah kalian, bila ia rukuk, maka rukuklah kalian, bila ia membaca “sami’allohu liman hamidah”, maka bacalah “Allohumma robbana lakal hamd”, bila ia sujud, maka sujudlah dan bila ia sholat sambil duduk, maka sholatlah kalian sambil duduk (HR Muslim)

2) Setelah waladhdhollin maka makmum membaca ”amin”, demikian juga dengan imam

Atho’ berkata, “Amin adalah sebuah doa. Ibnu Zubair dan orang-orang yang di belakangnya mengucapkan ‘amin’ sehingga gemuruh suaranya di dalam masjid. Abu Huroiroh berseru kepada imam, ‘Janganlah lupakan aku mengucapkan, ‘Amin’.(HR Bukhori. Di-maushul-kan oleh Tirmidzi dan al-Bazzar. Tirmidzi berkata (2/148), “Ini adalah hadits hasan gharib shohih dari jalan ini.” Albani berkata, “Perawi-perawinya adalah perawi-perawi Ash-Shahih.”)

Nafi’ berkata, “Ibnu Umar tidak pernah meninggalkan bacaan amin, dan beliau selalu menyuruh orang lain supaya mengucapkannya. Aku mendengar suatu hal yang baik tentang hal itu darinya.” (HR Bukhori. Di-maushul-kan oleh Abdur Rozzaq (2643) dengan isnad shohih darinya dengan lafal yang hampir sama dengannya).

Abu Huroiroh mengatakan bahwa Nabi bersabda, “Apabila imam membaca amin, maka bacalah amin olehmu. Karena, malaikat juga mengucapkan amin. Sesungguhnya barangsiapa yang bacaan aminnya bersamaan dengan bacaan amin malaikat, maka diampunilah dosanya yang telah lampau.” (HR Bukhori. Ibnu Syihab berkata, “Rosululloh mengucapkan amin.” )

3) Makmum mengucapkan salam setelah imam selesai mengucapkan salam (imam salam pertama, makmum salam pertama. Imam salam kedua, makmum salam kedua)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah bahwa Ibnu Umar menyukai orang yang di belakang imam mengucapkan salam setelah imam mengucapkannya. (HR Bukhori)

Diriwayatkan oleh Abdur Rozzaq di dalam Mushonnaf-nya (3147) dari Nafi’, katanya, “Adalah Ibnu Umar apabila ada di tengah-tengah orang banyak, ia menjawab (mengikuti) salam imam bila telah selesai bersalam ke kanan. Dia tidak bersalam ke kiri sehingga orang-orang bersalam kepadanya lalu dia menjawabnya. (Sanad riwayat ini juga shohih).

4) Apabila makmum ingin mengingatkan sesuatu kepada imam (umpama karena imam salah) maka makmum lelaki mengucapkan tasbih, dan makmum perempuan menepuk tangan.

مَنْ نَابَهُ شَيْءٌ فِي صَلَاتِهِ فَلْيُسَبِّحْ فَإِنَّهُ إِذَا سَبَّحَ الْتُفِتَ إِلَيْهِ وَإِنَّمَا التَّصْفِيحُ لِلنِّسَاءِ

(HR Muslim dari Sahl bin Sa’id As Sa’idi)

4) Bila imam melakukan sujud sahwi maka makmum seluruhnya mengikut.

Dari Umar dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda: “Bagi makmum itu tidak ada lupa, maka jika imam lupa wajiblah sujud sahwi atas imam dan makmum.” (HR Tirmidzi dan Baihaqi, sebagian imam menyatakan sanadnya lemah.)

MAKMUM YANG MASBUQ

Makmum yang masbuq maksudnya adalah makmum yang datangnya agak terlambat (tidak sempat takbirotul ihrom bersama imam).

Abu Huroiroh berkata :

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَلَا تَأْتُوهَا تَسْعَوْنَ وَأْتُوهَا تَمْشُونَ وَعَلَيْكُمْ السَّكِينَةُ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا

Aku mendengar Rasulullah bersabda: Jika sholat telah dimulai, janganlah engkau mendatanginya dengan berlari. Datangilah dengan berjalan cepat. Dan tenanglah. Sholatlah rekaat yang engkau dapatkan (jamaah) dan sempurnakanlah rekaat yang terlambat (HR Muslim)

Makmum yang terlambat maka ia dihitung mendapatkan 1 rekaat bila ia masih sempat rukuk bersama imam pada rekaat yang sedang berjalan tersebut, sebagaimana tersebut di dalam hadits Abu Dawud (1/206) berikut ini.

Rasululloh Saw bersabda,”Apabila seorang diantara kamu mendatangi sholat dan kami sedang sujud maka sujudlah kamu dan jangan kamu hitung itu rekaat, dan siapa yang sempat rukuk maka ia telah mendapat 1 rekaat.”

Namun perlu difahami bahwa dalam mendapati rukuk bersama imam ini, berdasarkan banyak hadits lain yang shohih, disimpulkan bahwa saat tersebut kita sempat takbirotul ihrom lalu dengan cepat membaca Alfatihah (tidak usah iftitah lagi karena kita terlambat. Iftitah adalah sunnat sedang Takbirotul ihrom dan Alfatihah adalah wajib, maka yang wajib harus diutamakan). Kemudian kita rukuk sebelum imam berdiri/i’tidal (tidak mengapa kalau baru saja kita rukuk, imamnya sudah berdiri/i’tidal, karena yang membatalkan jamaah adalah apabila kita tertinggal 1 rukun fi’li/ 1 rukun gerakan; Yang penting kita rukuk dengan thuma’ninah walaupun hanya sempat mengucapkan tasbih rukuk 1 kali atau hanya sempat mengucapkan SUBHANALLOH 1 kali)

Bagi makmum yang tidak sempat mendapati rukuk seperti dijelaskan diatas, hendaklah ia takbirotul ihrom dan langsung mengikuti gerakan imam saat itu namun dia tidak dihitung 1 rekaat, hanya mendapatkan pahala berjamaahnya. Kemudian ia wajib menambah rekaatnya yang kurang setelah imam salam. Bila yang kurang 1 rekaat maka ia tambah 1 rekaat, bila 2 rekaat maka ia tambah 2 rekaat, demikian seterusnya. Dan bagian sholatnya yang kurang ini merupakan sholat munfarid (sendirian, tidak dalam hitungan rekaat berjamaah) walaupun pahalanya berjamaah.

Beberapa permasalahan

Permasalahan 1 :
Bila ada lebih dari satu makmum yang masbuq, bolehkah setelah imam salam, salah satu makmum yang masbuq maju menjadi imam bagi sesama makmum yang masbuq sehingga mereka tetap dalam keadaan sholat berjamaah?

Ustadz Susanto menjawab :

Pendapat pertama :
Apabila lebih dari satu makmum yang masbuq dan posisinya berdekatan sehingga memungkinkan berjamaah, maka setelah imam salam, salah satu dari makmum yang masbuq tersebut (yang posisi berdirinya maupun kriteria dirinya memenuhi syarat imam) boleh maju menjadi imam bagi rekannya yang masbuq tadi, sehingga sisa rekaatnya dapat dihitung sebagai sholat berjamaah (demikian menurut fatwa madzhab Syafi’i dan Hambali, dengan alasan bahwa makmum yang masbuq sudah terlepas posisinya sebagai makmum begitu imam salam atau imamnya batal oleh karena sesuatu sebab yang membatalkan sholat).

Pendapat kedua :
Fatwa dalam madzhab Maliki membolehkan makmum yang masbuq tersebut menjadi imam bila masbuqnya itu tidak sempat mendapatkan rekaat terakhir pada sholat tersebut (artinya ia masbuq pada saat imam sudah lewat dari rukuk pada rekaat terakhir sholat).

Pendapat ketiga :
Fatwa dalam madzhab Hanafi tidak membolehkan sama sekali, dengan alasan bahwa makmum yang masbuq tersebut telah mengikat diri mengikut imam.

Pendapat keempat :
Fatwa berbagai ulama yang tidak terikat kepada madzhab tidak membolehkan bila pembentukan imam dan makmum tersebut dengan sesama masbuq, tetapi boleh bila makmum masbuq tadi kemudian dijadikan imam oleh makmum yang datang kemudian (makmum baru, tidak masbuq kepada imam yang pertama).
Ulasan ustadz Susanto :
Pada dasarnya semuanya sepakat bahwa makmum yang masbuq tetap mendapatkan pahala berjamaah secara penuh walaupun kualitas pahalanya pastilah berbeda dengan makmum yang tidak masbuq. Oleh karena itu pendapat ketiga (fatwa madzhab Hanafi) benar sepanjang di masjid tersebut diterapkan sistem imamah dalam satu jamaah. Jadi, tidak ada jamaah sebelum selesai tuntas satu jamaah terdahulu, karena bisa kacau, dan makmum yang masbuq merupakan bagian dari jamaah terdahulu tersebut. Namun bila kondisinya seperti yang dijelaskan pada pendapat pertama (fatwa madzhab Syafi’i dan Hambali), maka tidak akan kacau, karena hanya terbentuk satu jamaah setelah jamaah yang terdahulu. Demikian seterusnya bila diantara yang masbuq tadi dijadikan imam bagi makmum yang datang kemudian, maka boleh sepanjang tidak terbentuk dua jamaah sebelum selesai satu jamaah yang lebih dahulu. Dalam hal ini maka fatwa madzhab Syafi’i dan Hambali benar dan dapat dilaksanakan. Dan makmum yang masbuq yang kemudian dijadikan imam oleh makmum lain yang datang kemudian (bukan masbuq) ini sinkron dengan pendapat keempat sekaligus pendapat kedua, karena pada dasarnya pendapat keempat sama dengan pendapat kedua (karena makmum yang masbuq pada pendapat kedua tidak dihitung mendapatkan sholat berjamaah). Sehingga dengan demikian keempat pendapat benar semua, dan terpakai sesuai dengan situasi dan kondisinya.

Permasalahan 2 :
Bila kita sholat berjamaah berdua saja, apakah posisi berdiri makmum wajib sejajar atau sangat dekat dengan imam ?

Ustadz Susanto menjawab :
Dari dalil-dalil yang ada, posisi berdiri makmum lebih afdhol sedekat mungkin dengan imam namun tidak sejajar (karena makna imam sendiri adalah yang memimpin, yang didepan, pemuka, sedangkan makmum adalah yang mengikut imam) (namun posisi ini BUKAN WAJIB). Boleh agak jauh dari imam tapi sisi kiri makmum tetap satu garis dengan sisi kanan imam, dan posisi berdiri makmum saat itu paling jauh adalah satu shof di belakang imam (jarak satu posisi sujud), tetapi posisi yang demikian ini sama statusnya dengan kondisi shof yang jarang-jarang, padahal yang afdhol adalah yang rapat. Namun semuanya tidak menyebabkan TIDAK SAHNYA JAMAAH, hanya kesempurnaan jamaahnya kurang, sehingga derajat sholat berjamaahnya kurang.

Dari Tholq Ibnu Ali bahwa Rosululolh SAW bersabda : “Tidak sempurna sholat seseorang yang sendirian di belakang shof.” (HR Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi. Hadits shohih menurut Ibnu Hibban)

Permasalahan 3 :
Bila perempuan sholat berjamaah dengan sesamanya, apakah harus dilakukan juga adzan dan iqomah?

Ustadz Susanto menjawab :
Adzan dan iqomah dilakukan oleh laki-laki dalam seluruh jamaah yang sama-sama laki-laki maupun yang berjenis-jenis banyak. Perempuan dan banci tidak boleh adzan, hanya boleh iqomah di tengah-tengah jamaah kaumnya saja. Banyak hadits yang menjelaskan hal ini.

Permasalahan 4 :
Apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan sebelum maupun sesudah sholat berjamaah ?

Ustadz Susanto menjawab :
Awal sholat adalah takbirotul ihrom dan akhir sholat adalah salam. Diluar itu tidak ada lagi keawajiban yang berhubungan dengan sholat, pokoknya apa saja boleh dilakukan (bisa mubah dan bisa sunnah), misalnya sebelum sholat ada yang masih berbicara atau masih menelan permen atau mengucapkan sesuatu namun begitu imam takbirotul ihrom segera makmum ikut takbirotul ihrom, setelah sholat boleh langsung berdiri pulang atau mungkin menggaruk-garuk kepala atau mungkin mengusap muka atau mungkin langsung berbicara atau mungkin langsung membaca Alqur’an (baik secara bersama maupun sendiri), atau berdzikir (baik secara bersama maupun sendiri), atau berdoa (baik secara bersama maupun sendiri), atau melakukan aktivitas lainnya terserah masing-masing orang karena sholat telah selesai, semua halal dilakukan kecuali melakukan perbuatan yang secara tegas diharamkan oleh syari’at islam, atau mungkin dimakruhkan.

Permasalahan 5 :
Bila kita menjadi makmum, ada pendapat yang mewajibkan kita membaca Alfatihah setelah mengaminkan bacaan imam, ada juga yang mengatakan tidak perlu karena bacaan kita sudah dicakup oleh imam, dan saat imam membaca, kewajiban kita mendengarkan, tidak boleh membaca apapun atau berkata-kata apapun. Mana yang benar diantara pendapat ini?

Ustadz Susanto menjawab :
Pendapat yang mewajibkan berdasarkan dalil-dalil yang shohih, demikian juga pendapat yang menyatakan tidak perlu karena sudah dicakup oleh bacaan imam.
Semuanya sepakat bahwa bacaan Alfatihah itu wajib dan merupakan rukun sholat, karena itu tidak boleh ditinggalkan. Bagi yang mengikuti pendapat bahwa tidak perlu lagi membaca alfatihah karena sudah dicakupi imam, maka harus berhati-hati. Artinya ketika imam membaca alfatihah, dia harus mendengarkan bacaan imam dengan cermat dan mengikutinya dalam hati dengan khusyu’. Bila dia belum selesai membaca doa iftitah sedangkan imam sudah mulai membaca alfatihah, maka ia wajib menghentikan doa iftitahnya saat itu dan langsung mendengarkan bacaan imam dengan cermat serta mengikutinya dalam hati dengan khusyu’. Bagi yang mengikuti pendapat bahwa makmum wajib membaca alfatihah setelah mengaminkan imam, maka ia tidak boleh melalaikan apa yang dibaca imam. Bacaannya tidak boleh sampai terdengar mengganggu kehusyukan makmum di sebelahnya, apalagi sampai kepada imam. Saat membaca alfatihah, dia juga harus tetap mendengarkan dengan baik apa yang dibaca imam.

WASSALAM,
SEMOGA BERMANFAAT
Penulis :
—– Susanto SHI, S.AP.—–
RSS Helindo Blok R. 80

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 4 Februari 2010 in Uncategorized

 

Khuthbah Idul Adhha 1430 H

Memupuk Semangat Qurban
Oleh : Ustadz Susanto SHI (Baturaja Permai Blok R.80)

Saudara-saudaraku kaum muslimin dan mukminin jama’ah ‘idul adhha rohimakumulloh,
Hari ini di tempat kita ini telah hadir 10 dzulhijjah tahun 1430 H, yang biasa kita sebut Idul Adhha atau Hari Raya Qurban atau Hari Raya Haji. Hari yang agung ini telah kita sambut dengan gema takbir, tahmid dan tahlil, mengagungkan kebesaran Alloh dan membesarkan keagungan Alloh, sejak tadi malam sampai dengan hari ini bahkan sampai 3 hari setelah hari ini yakni sampai berakhirnya hari tasyrik.
Hari Raya Haji merupakan puncak pelaksanaan ibadah haji di kota suci Mekkah Almukarromah, yang di sini kita rayakan dengan tujuan memotivasi agar kita bersungguh-sungguh berjuang dan berusaha sehingga kelak kita dapat pula menunaikan ibadah haji sebagai rukun islam yang kelima seperti yang sekarang sedang dilaksanakan oleh saudara-saudara kita sesama muslim. Disamping itu Hari Raya Haji disebut juga Hari Raya Qurban atau ’Idul Adhha karena pada hari ini kita diperintahkan untuk dapat melaksanakan ibadah qurban bagi yang punya kemampuan sebagai salah satu dari wujud rasa syukur kita peada Alloh SWT atas segala macam nikmat yang telah IA berikan kepada kita, sebagaimana firmanNYA di dalam surat Alkautsar sbb :
Inna a’thoina kal kautsar………dst….
Artinya :
 Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.
Maka dirikanlah sholat hanya karena Tuhanmu; dan berkorbanlah (yakni menyembelih hewan qurban dan memberikannya utama kepada orang-orang miskin sebagai wujud mensyukuri nikmat Allah).
 Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus (dari rahmat Alloh).

Dan tentu saja qurban itu dilaksanakan bukan dengan maksud lain, selain hanya karena dilandasi rasa taqwa kepada Alloh dan meneladani sunnah Rosullulloh, sebagaimana tersebut di dalam surat Alhajj ayat 37 yang artinya : Daging dan darahnya itu sekali-kali tidak akan dapat mencapai (keridhoan) Alloh, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya kepada Alloh. Demikianlah Alloh telah menundukkan hewan itu untuk kamu supaya kamu mengagungkan Alloh terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.

Saudara-saudaraku kaum muslimin dan mukminin jama’ah ‘idul adhha rohimakumulloh,
Dalam menunaikan qurban tentulah kita harus berpedoman kepada ketentuan Alqur’an dan Hadits agar qurban kita menjadi sah secara hukum/syari’at dan dapat diterima secara haqiqat. Adapun ketentuannya dapat diuraikan sbb :
Pertama, orang yang berqurban tentulah harus orang yang beragama islam, yang mukallaf, dan mempunyai hak yang sempurna atas hewan yang akan diqurbankan.
Kedua, hewan qurban adalah hewan yang tergolong kelompok al an’am (hewan ternak berkaki empat yang biasa digembalakan, yakni unta (umur antara 5 masuk 6 th), lembu/sapi/kerbau (umur antara 2 masuk 3 th), biri-biri/kambing/kibas (umur 1 masuk 2 th atau sudah salin gigi depannya), sehat/tidak gila, tidak cacat fisik (baik karena bawaan lahir maupun oleh sebab lain), tidak berpenyakit dan tidak sangat kurus. Kambing/kibas/biri-biri hanya diperuntukkan atas nama 1 orang, sedangkan unta/sapi/kerbau boleh atas nama 7 orang. Dan tidak ada satu bagianpun dari hewan qurban yang boleh dijual, sebagaimana tersebut dalam Hadits Albaihaqi yang bersumber dari Abu Huroiroh RA : ”Barangsiapa menjual kulit hewan kurbannya maka tiada qurban baginya”
Ketiga, waktu penyembelihan adalah mulai terbit matahari semata tombak tanggal 10 dzulhijjah setelah sholat idul adhha dan 2 khutbahnya sampai sebelum terbenam matahari tanggal 13 dzulhijjah ( selama 3 hari setelah idul adhha).
Keempat, penyembelih adalah si empunya qurban atau orang lain yang diwakilkan kepadanya, dengan mengucapkan asma Alloh dan menyebutkan nama si empunya qurban saat penyembelihan.
Kelima, penerima qurban adalah diutamakan kelompok faqir miskin, dan kalaupun ada yang dimanfaatkan untuk di luar faqir miskin, maka tidak boleh melebihi dari sepertiga bagian dari seluruh bagian yang ada. Hal ini sesuai dengan firman Alloh di dalam surat Alhajj ayat 28 yang artinya : Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan (yakni hari raya haji dan hari tasyrik) atas rezeki yang telah Alloh berikan kepada mereka berupa hewan ternak / al an’am. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.
Menurut tafsir Ibnu Katsir, juz 3 hal 3000 bahwa sebagian generasi terdahulu yang sholeh lebih menyukai membagi kurban menjadi tiga bagian yaitu sebagian untuk diri sendiri, sepertiga untuk hadiah orang-orang mampu dan sepertiga lagi shadaqah untuk fuqoro dan masakin.

Maha bijaksana Alloh lagi Maha Adil.

Saudara-saudaraku kaum muslimin dan mukminin jama’ah ‘idul adhha rohimakumulloh,
Kalau saudara-saudara kita sudah banyak yang mampu melaksanakan haji dan dalam rangkaian ibadah hajinya mereka melaksanakan juga qurban, maka bagi kita yang belum mampu untuk ikut ibadah haji sangat dianjurkan melaksanakan qurban sebagai bentuk solidaritas dan rasa kebersamaan, karena itu melalui mimbar ini, pada kesempatan yang baik ini, saya mengajak kepada saudara-saudara semuanya mulai sekarang atau di tahun-tahun mendatang untuk segera melaksanakan qurban dengan penuh ketakwaan dan keikhlasan, karena Rosululloh SAW ada bersabda: Barangsiapa ada kesempatan/kelapangan namun tidak mau berqurban maka bersiaplah ia untuk mati secara Yahudi atau Nasrani.

Kemudian setelah melakukan qurban dengan ikhlas karena Alloh, Rosululloh SAW sangat menganjurkan untuk memperbanyak amal shalih, kebaikan dan kemasyarakatan, seperti bersilaturahmi, mengunjungi sanak kerabat – jiran tetangga, menjaga diri dari rasa iri, dengki, mendongkol maupun amarah, juga menjaga kebersihan hati dan buruk sangka, menyantunii fakir miskin, anak yatim, orang-orang yang sengsara dan kesulitan hidup.

Demikian sunnah Rosululloh yang menjadi panutan kita.
Akhirnya saya mengajak kepada diri saya, keluarga saya dan semua yang hadir di sini untuk di hari-hari mendatang kita sama-sama meningkatkan mutu iman dan takwa kita kepada Alloh SWT dan dapat meneladani sunnah Rosululloh SAW di setiap aspek kehidupan kita, terutama semangat berqurban di Hari Raya Qurban untuk diteruskan dalam perjuangan menegakkan dan mengamalkan islam secara lebih sempurna dalam kehidupan kita sehari-hari di tengah-tengah umat yang madani.
Mohon maaf zhohir dan bathin atas semua khilaf dan salah yang mungkin telah saya lakukan, permohonan maaf yang tulus dari lubuk hati yang paling dalam, dan semoga Alloh berkenan mengampuni, serta senantiasa menucrahkan hidayahNya untuk kita semua. Amin.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 3 Desember 2009 in Uncategorized

 

Khuthbah Jum’at

MARI NIATKAN MELAKSANAKAN HAJI
Oleh
Ustadz Susanto SHI

Ma’asyirol muslimin walmu’minin rohimakumulloh,
Hari ini Jum’at 13 Nopember 2009 bertepatan insya-alloh dengan 25 Dzulqoidah 1430 H, salah satu dari 4 bulan harom disamping dzulhijjah, muharrom, dan rojab menurut hadits Ibnu Jarir dari Qotadah, bulan dimana Rosululloh SAW memulai umrohnya. Beberapa hari yang lalu pun saudara-saudara kita telah mulai diberangkatkan untuk menunaikan ibadah haji di tanah suci Mekkah. Alhamdulillah, dengan taqdir Alloh, sdr-sdr kita tersebut telah diberikan rezeki dan dibukakan jalan sehingga mampu berangkat menunaikan ibadah haji. Semoga kita semuapun akan segera diberikan kesempatan dan kemampuan oleh Alloh untuk mengikuti jejak mereka menunaikan ibadah haji tersebut sebagai kesempurnaan ibadah kita kepada Alloh yang senantiasa berpegang kepada sunnah Rosululloh SAW.

Ma’asyirol muslimin walmu’minin rohimakumulloh,
Ibadah haji sebagai rukun islam yang kelima, merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang sudah mampu, sebagaimana disebutkan di dalam Alqur’an surat Ali Imron ayat 97 yang berbunyi : TA’AWUDZ, BASMALAH, WA LILLAAHI ‘ALANNAASI HIJJUL BAITI MANISTATHOO’A ILAIHI SABIILA (Dan menunaikan haji ke baitulloh adalah kewajiban manusia kepada Alloh bagi siapa saja yang mampu melaksanakannya). Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa mampu disini meliputi 3 unsur, yaitu :
Pertama, mampu dalam perbekalan. Perbekalan ini mencakup kesehatan serta biaya perjalanan dan biaya nafkah keluarga selama pelaksanaan ibadah haji.
Kedua, mampu dalam ilmu. Artinya dia telah memikili ilmu yang cukup tentang pelaksanaan haji sehingga sah hajinya sesusai dengan ketentuan Alqur’an dan sunnah Rosululloh SAW. Kecukupan ilmu ini lebih afdhol bila ilmu itu dimilikinya sendiri, walaupun dengan mengikut kepada orang berilmu juga dibenarkan.
Ketiga, mampu dalam perjalanan. Artinya ada jalan atau kendaraan atau alat transportasi yang dapat membawanya ke baitulloh dengan aman.
Apabila ketiga unsur ini telah dimiliki oleh seseorang maka kewajiban haji harus segera ia laksanakan, jangan ditunda-tunda, karena umur tidak ada yang dapat memperkirakan, dan jangan sampai kita termasuk orang yang lalai karena menunda-nunda dengan berbagai alasan.
Imam Atturmudzi dalam kitab haditsnya yang diriwayatkan dari Sy Ali RA menukil bahwa Rosululloh SAW bersabda,”MAN MALAKA ZAADAN WA ROOHILATAN TUBALLIGHOHU ILAA BAITILLAAHI WA LAM YAHUJJA FA LAA ’ALAIHI AN YAMUUTA YAHUUDIYYAN AW NASHROONIYYA.” (Siapa yang memiliki kemampuan dan kendaraan/transportasi yang dapat membawanya ke Baitulloh namun ia tidak mau berhaji, maka tidak ada baginya, awas berhati-hatilah ia untuk mati secara yahudi atau nasrani).

Ma’asyirol muslimin walmu’minin rohimakumulloh,
Mari mulai sekarang kita niatkan bahwa kita akan melaksanakan ibadah haji ini untuk kesempurnaan iman dan islam kita. Niat yang sungguh-sungguh adalah niat yang dilandasi oleh iman lalu mulai dilakukan, mulai dirintis dengan tekad yang bulat tanpa keraguan dan usaha yang betul-betul nyata. Kita mulai sisihkan sebagian harta kita untuk persiapan, apalagi sekarang ini Pemerintah sudah membuka kemudahan melalui kebijakan perbankan. Cukup menyetor 20 jt rp sudah bisa mendapatkan kuota atau kursi calon haji. Atau dengan menyetor 500 rb sudah bisa terdaftar pada tabungan haji. Atau bagi yang belum punya cukup uang, bisa dengan memanfaatkan dana talangan dari Bank, yang insya-alloh akan dapat kita lunasi pada saatnya nanti. Karena pendaftaran tahun ini, sekarang ini, menurut informasi dari Kantor Departemen Agama Kab. OKU, pemberangkatannya baru bisa dilakukan pada tahun 2014, artinya 4 atau 5 tahun yang akan datang. Insya-alloh, kalau kita niatkan karena Alloh, kita daftarkan diri kita sekarang, Alloh akan berikan rezeki dalam rentang waktu sampai saat pemberangkatan kelak. Amin alloohumma amiin. Itulah sekedar alternative dan gambaran untuk memperkuat niat dan usaha kita untuk melaksanakan ibadah haji demi kesempurnaan iman dan islam kita. Saya yakin masih banyak alternatif-alternatif lainnya yang bisa ditempuh kalau kita bersungguh-sungguh.

Ma’asyirol muslimin walmu’minin rohimakumulloh,
Selanjutnya saya mengajak, pada sehabis sholat kita, kita mendoakan saudara-saudara kita yang sedang menunaikan rangkai ibadah haji diberikan kesehatan dan kekuatan, serta hidayah dan pertolongan, agar mereka semua mampu melaksanakan ibadah haji sesuai dengan hukum dan aturan, sehingga akan menjadi haji mabrur seperti yang didambakan. Dan kita juga berdoa untuk diri kita sendiri agar kelak kitapun akan segera diberi jalan dan kemudahan oleh Alloh SWT dapat menunaikan ibadah haji itu pula dengan penuh keimanan dan keyakinan. Insya-alloh, amin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 3 Desember 2009 in Uncategorized

 

Menambah Wawasan Agama

Bagi anda yang ingin menambah wawasan agama islam, dianjurkan mengikuti situs ini ( http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=13163&category_id=&hal=3 )

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 15 Oktober 2009 in Uncategorized

 

Tag: